-=-

Scrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace LayoutsScrolling Glitter Text Generator & Myspace Layouts

Minggu, 09 November 2008

CARA MAKAN KERIPIK BISA MENGUNGKAP WATAK????



Sebelumnya,,,,mau kasih tau dulu nihhh..... :”)

Informasi ini aku dapatkan saat aku membaca sebuah artikel di majalah Aura.

Dan saat itu terlintas di benak untuk sharing dengan teman-teman.....

Selamat membaca!!!


Mau tau seseorang itu bijaksana, gembira, atau orang baik?? Perhatikan cara dia mengunyah keripik, begitu kata seorang ahli dari sebuah universitas di Amerika….


Lets chek it out…….. ;-)


Prof. William Lee menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari cara orang-orang makan keripik kentang potato chip. Setelah mendapat banyak saran dari para ahli psikologi, ia menyimpulkan, kita dapat mengungkap banyak tentang watak orang dengan melihat dia mengunyah sesuatu yang garing seperti keripik.


Akhirnya Lee menemukan 4 tipe pemakan keripik...yaitu :


  • Pemamah

Mereka yang biasanya mengganyang sekantong besar keripik, lalu mengambil segenggam keripik. Memasukan semuanya ke mulut dan mengunyahnya. Tipe yang seperti ini biasanya orang yang tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Bekerja keras untuk mencapai tujuannya dan tidak mudah untuk diintimidasi.


  • Penggerumis

Orang ini makan keripik satu per satu. Memakannya dengan menggigitnya sedikit demi sedikit. Ini menunjukkan mereka tipe orang yang bijaksana dan penuh pengertian. Orang yang sensitif, penuh perhatian, dan penyayang yang tidak suka menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.


  • Pengerkah

Mereka memasukan sebuah keripik utuh kedalam mulut, lalu tiba-tiba mengerkahnya dan menikmati klitak-klitik bunyi keripik. Tipe ini murah senyum, suka berguarau, dan selalu melihat sisi positif dari hidup ini.


  • Pemegang

Pemakan kripik ini tidak pernah melahap keripiknya. Mereka mengambil segenggam lalu memakannya pelan-pelan dengan lebih memperhatikan orang yang ada di dekatnya. Ini merupakan bukti nyata, mereka adalah pembicara yang cerdas yang senang bergaul dan selalu berorientasi pada keluarga.


Selamat mencoba mengidentifikasi orang yahhh.... ^-^



Diposting oleh : Intan Febrina Wulandini




Kamis, 06 November 2008

Ketika Cara-Nya adalah Rasaku

Ketika hati ini galau
Dia yang menguatkanku dengan caranya
Ketika hati ini tak tau arah
Dia pun membasuh ketidaktahuanku dengan caranya
Mengajariku…
Bagaimana menyikapi hidup dengan lebih indah
Walaupun menurutnya terasa sulit

Ketika hati ini terasa dingin
Dia mengusapkan rasa yang selalu terasa hangat dengan caranya
Memelukku dengan bergelimpah kasih sayang
Dengan selalu menorehkan kecupan hangatnya di hatiku
Menemaniku di sunyinya malam
Tapi
Kadang meninggalkanku di balik terbitnya fajar
Dan mengucapkan kata-kata indah
Seindah bintang-bintang di angkasa
Yang selalu terlihat indah meski dari kejauhan
Warnanya putih
Yang selalu mengingatkanku akan sucinya sebuah cinta yang selalu terukir abadi di atas segalanya

Tapi kini
Semuanya terasa lelah
Semuanya meninggalkanku dalam kesendirian yang memilukan
Rasa itu dipaksa hilang…tapi tetap berbekas
Hilangnya menyesakkan jantung ini
Mematahkan rongga-rongga yang ada di sekujur tubuh ini

Ternyata…
Rasa itu hanya dapat memberikan bekas butiran-butiran hangat dan indah yang menetes di pipi ini

--hiLda nuRuL mawadDah--
tuk seseorang yang selalu ku sayangi dengan tulus di Syurga-Nya...
:)

Jumat, 24 Oktober 2008

ANTON CHEKOV..........
TUGAS DARI PAK EDI......
MINGGU INI......
MINGGU DEPANNYE
ANALISIS
NOVEL "GADIS PANTAI"
KARYA
MEGA ANANTA TOER,
EHHHH....
SALAH!!!!
KARANGAN PRAMOEDYA ANANTA TOER....
MY LEGEND,,

1904 Anton Chekov Meninggal

ANTON Pavlovich Chekhov adalah seorang penulis besar Rusia. Ia terutama dikenal akan cerpen-cerpen dan dramanya. Chekhov lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya. Drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20. Anton Chekhov dilahirkan di Taganrog, sebuah pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov, di Rusia selatan pada 29 Januari 1860. Ia jatuh cinta dengan teater dan sastra sejak masa kanak-kanak. Untuk mendukung keluarganya, ia mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor, dan vinyet dari kehidupan Rusia masa itu. Ia dengan cepat menjadi penulis yang matang. Chekov segera mendapatkan reputasi sebagai penulis satire kehidupan jalanan Rusia. Pada 1887, akibat beban kerja yang berlebihan dan kesehatannya yang memburuk, Chekhov melakukan perjalanan ke Ukraina timur. Sekembalinya, ia mulai menulis cerita pendeknya yang panjang, Steppa. Cerita pendek ini menandai puncaknya yang baru sebagai pengarang karena karyanya diterbitkan dalam sebuah terbitan terkemuka pada masa itu. Pada 1901 ia menikah dengan Olga Leonardovna Knipper, seorang aktris yang bermain dalam drama-dramanya. Chekov meninggal pada 15 Juli 1904.

15 Juli Wikipedia | Nisa | Litbang MI


Arsip Berita : Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 : Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 : Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Anton Chekhov
Anton Pavlovich Chekhov (Анто́н Па́влович Че́хов) (29 Januari 1860 – 15 Juli 1904) (Kalender Julian: 17 Januari 1860 – 2 Juli 1904) adalah seorang penulis besar Rusia yang terkenal terutama karena cerpen-cerpen dan dramanya. Banyak dari cerpennya dianggap sebagai apotheosis dari bentuk sementara dramanya, meskipun hanya sedikit - dan hanya empat yang dianggap besar - mempunyai dampak yang besar dalam literatur dan pertunjukan drama.
Chekhov lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya, dan banyak di antaranya dianggap merupakan adikarya dalam bentuk karangan tersebut. Namun demikian drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20. Dari Chekhov, banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya. Keempat drama utama Chekhov - Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun Ceri—seringkali ditampilkan kembali dalam pementasan-pementasan modern.
Kehidupan
Masa muda
Anton Chekhov dilahirkan di Taganrog, sebuah pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov, di Rusia selatan pada 29 Januari 1860. Ayahnya seorang pedagang kebutuhan sehari-hari, yang mempunyai kedudukan resmi sebagai Pedagang dari Gilda Ketiga - купeц 3й гильдии) dan kakeknya seorang petani dalam sistem feodal yang berhasil membeli kebebasannya. Anton adalah anak ketiga dari enam bersaudara.


Katedral Kenaikan di Taganrog, Rusia, tempat Anton Chekhov dibaptiskan pada 10 Februari 1860.
Anton belajar di sekolah untuk anak-anak Yunani di Taganrog (1866-1868), dan pada usia delapan tahun ia dikirim ke Gimnasium untuk anak-anak lelaki di Taganrog. Anton adalah seorang murid yang rata-rata. Ia agak pemalu dan tidak suka menonjolkan diri, namun ia terkenal karena sering memberikan komentar-komentar satir, karena sering berulah, dan membuat nama-nama julukan yang lucu-lucu untuk guru-gurunya. Ia senang tampil dalam teater-teater amatir dan sering pula menghadiri pertunjukan-pertunjukan di teater desa. Di masa remajanya ia mencoba mengarang berbagai "anekdot" singkat, cerita-cerita lucu ataupun yang menggoda, meskipun ketika itu ia juga dikenal pernah menulis drama panjang yang serius, "Anak piatu", yang kemudian dihancurkannya.
Anton Chekhov jatuh cinta dengan teater dan sastra sejak masa kanak-kanak. Pertunjukan pertama yang ia tonton adalah opereta Elena si Cantik karya Jacques Offenbach di panggung Teater Kota Taganrog pada 4 Oktober 1873. Anton saat itu seorang murid Gimnasium yang berusia 13 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi pencinta besar teater. Ia menghabiskan praktis semua tabungannya untuk teater. Kursi favoritnya di teater itu adalah barisan belakang karena murah (40 kopek perak), dan karena murid-murid Gimnasium membutuhkan izin khusus untuk masuk ke teater. Seringkali izin tidak diberikan dan kebanyakan hanya untuk hari-hari biasa. Kadang-kadang Chekhov dan teman-temannya sesama murid sekolah menyamar dan bahkan mengenakan make up, kacamata atau janggut palsu, untuk menipu staf sekolah biasa yang memeriksa kalau-kalau ada murid yang menonton tanpa izin.
Ibu si pengarang, Yevgeniya, adalah seorang juru cerita yang hebat, dan Chekhov diduga memperoleh bakatnya untuk bercerita dan belajar membaca dan menulis daripadanya. Ayahnya, Pavel Yegorovich Chekhov, seorang yang sangat berdisiplin dan fanatik, menuntut semua anaknya mengabdikan diri kepada Gereja Ortodoks Timur dan bisnis keluarganya. Pada 1875, ketika terancam bangkrut, ia terpaksa melarikan diri dari para kreditur ke Moskwa, tempat kedua anak sulungnya belajar di universitas. Selama beberapa tahun berikutnya keluarganya hidup dalam kemiskinan.
Anton tetap tinggal di Taganrog selama tiga tahun berikutnya untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia berusaha mencukupi kebutuhannya dengan memberikan les privat, menjual barang-barang rumah tangga, dan belakangan, bekerja di gudang pakaian. Pada 1879, Chekhov menyelesaikan sekolahnya di gimnasium dan bergabung dengan keluarganya di Moskwa, setelah ia diteima di sekolah kedokteran di Universitas Negara Moskwa.
[sunting] Tulisan-tulisan awal
Untuk mendukung keluarganya, Chekhov mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor dan vignet dari kehidupan Rusia masa itu, banyak di antaranya dengan menggunakan pseudonim seperti misalnya Antosha Chekhonte (Антоша Чехонте), Laki-laki tanpa perasaan (Человек без селезенки), dan lain-lain. Karyanya yang pertama diterbitkan muncul di mingguan St Petersburg Strekoza (Стрекоза, "Capung") pada Maret, 1880. Tidak diketahui berapa banyak cerita yang ditulis Chekhov selama periode ini, namun ia dengan cepat menjadi penulis yang matang. Ia segera mendapatkan reputasi sebagai penulis satir kehidupan jalanan Rusia.
Nicolas Leykin, salah seorang penerbit terkemuka pada mas aitu dan pemilik Oskolki (Осколки, "Fragmen-fragmen"), yang kepadanya Chekhov mulai memasukkan karya-karyanya yang lebih indah, mengenali bakat si penulis namun membatasi prosa Chekhov, hanya pada sketsa-sketsa sepanjang satu setengah halaman. Sebagian percaya bahwa batasan inilah yang mengembangkan ciri khas gaya penulisan Chekhov yang ringkas padat.
Chekhov lulus sebagai dokter pada 1884, namun tetap menulis untuk terbitan-terbitan mingguan dan pada 1885 mulai mengirimkan tulisannya ke Peterburgskaya Gazeta ("Gazeta Petersburg") karya-karya yang lebih panjang dan sifatnya lebih serius. Leykin menolak karya-karya ini. Pada Desember 1885 ia diundang untuk menulis untuk salah satu koran yang paling dihormati di St Petersburg, Novoye vremya (Новое Время, "Zaman Baru"), yang dimiliki dan disunting oleh milyuner Alexey Suvorin. Pada 1886 Chekhov sudah menjadi penulis terkenal, namun ia masih menganggap mengarang sebagai hobi.
Dmitrii Grigorovich, salah seorang dari banyak penulis yang tertarik pada cerita-cerita Chekhov, membujuknya agar ia lebih serius dengan bakatnya. Dalam suatu tahun yang sangat produktif, Chekhov menulis lebih dari seratus cerita pendek dan menerbitkan kumpulannya yang pertama, "Aneka Cerita" {Pestrye rasskazy) dengan dukungan dari Suvorin, dan pada tahun berikutnya kumpulan cerita pendeknya "Di Kala Senja" (V sumerkakh) memenangkannya Penghargaan Pushkin yang sangat diincar. Ini menandai awal kariernya yang sangat produktif sebagai pengarang.
[sunting] Tahun-tahun kematangan
Pada akhir 1880-an, Chekhov tertulari tuberkulosis dari pasiennya. Pada 1887, dipaksa oleh beban kerja yang berlebihan dan kesehatannya yang memburuk, Chekhov melakukan perjlanaan ke Ukraina timur. Sekembalinya, ia mulai menulis cerita pendeknya yang panjang, Steppa (Step), yang akhirnya diterbitkan dalam sebuah jurnal sastra yang serius, Severny vestnik ("Utusan Utara"). Cerita pendek ini menandai puncaknya yang baru sebagai pengarang, karena karyanya diterbitkan dalam sebuah terbitan terkemuka pada masa itu dan menunjukkan kematangan yang membedakan fiksinya yang belakangan.


Dengan Maxim Gorky di Yalta pada 1900.
Produksi pertama "Burung Camar", yang ditampilkan pertama kali pada 17 Oktober 1896, di St. Petersburg, merupakan bencana bagi Chekhov. Pada malam pembukaannya, penonton mengharapkan sebuah komedi, dan kelompok sandiwara itu hanya punya sembilan hari untuk berlatih. Ejekan dan cemooh menyambut monolog Nina pada akhir Babak I. Begitu kecewanya Chekhov sehingga ia menulis, "Saya tidak akan pernah melupakan kejadian semalam... saya tidak akan pernah menampilkan sandiwara itu di Moskwa, tidak akan pernah. TAK PERNAH lagi saya menulis atau menampilkannya lagi." (Secara kebetulan, para penonton pada malam ke-2 dan ke-3 lebih menghargainya, namun Chekhov tidak memedulikannya.)
Setelah produksi kedua Burung Camar (dan suksesnya yang pertama) oleh Teater Seni Moskwa, pada 1898, ia menulis tiga buah drama lagi untuk kelompok yang sama: Paman Vanya, Tiga Saudari dan Kebun Ceri. Pada 1901 ia menikah dengan Olga Leonardovna Knipper (1870-1959), seorang aktris yang bermain dalma drama-dramanya.

[sunting] Karya-karyanya
[sunting] Drama
· That Worthless Fellow Platonov (Platonov yang Tidak Berguna) (l.k.1881) - satu babak
· On the Harmful Effects of Tobacco (Bahaya Racun Tembakau) (1886, 1902)
· Ivanov (1887) - empat babak
· The Bear (1888) – (Orang Kasar) komedi satu babak
· The Proposal atau A Marriage Proposal (Pinangan) (l.k.1888-1889) - satu babak
· The Wedding (1889) (Pesta Perkawinan) - satu babak
· The Wood Demon (Hantu Kayu) (1889) – komedi empat babak
· The Seagull (Burung Camar) (1896)
· Uncle Vanya (Paman Vanya) (1899-1900) – berdasarkan The Wood Demon
· Three Sisters (Tiga Saudari) (1901)
· The Cherry Orchard (Kebun Ceri) (1904)
[sunting] Non fiksi
· Perjalanan ke Sakhalin (1895), termasuk:
· Pulau Saghalien [atau Sakhalin] (1891-1895)
· Melintasi Siberia
· Surat-surat
[sunting] Cerita pendek
Banyak dari cerita-cerita yang lebih awal ditulis dengan nama samaran "Antosha Chekhonte".
· "Intrigues" (1879-1884) - sembilan cerita
· "Late-Blooming Flowers" (1882)
· "The Death of a Government Clerk" (1883) (difilmkan di Indonesia oleh Syuman Djaya dengan judul "Si Mamad")
· "The Swedish Match" (1883)
· "Lights" (1883-1888)
· "Oysters" (1884)
· "Perpetuum Mobile" (1884)
· A Living Chronology (1885)
· "Motley Stories" ("Pëstrye Rasskazy") (1886)
· "Excellent People" (1886)
· "Misery" (1886)
· "The Princess" (1886)
· "The Scholmaster" (1886)
· "A Work of Art" (1886)
· "Hydrophobia" (1886-1901)
· "At Home" (1887)
· "The Beggar" (1887)
· "The Doctor" (1887)
· "Enemies" (1887)
· "The Examining Magistrate" (1887)
· "Happiness" (1887)
· "The Kiss" (1887)
· "On Easter Eve" (1887)
· "Typhus" (1887)
· "Volodya" (1887)
· "The Steppe" (1888) - memperoleh Penghargaan Pushkin
· "An Attack of Nerves" (1888)
· "An Awkward Business" (1888)
· "The Beauties" (1888)
· "The Swan Song" (1888)
· "Sleepy" (1888)
· "The Name-Day Party" (1888)
· "A Boring Story" (1889)
· "Gusev" (1890)
· "The Horse Stealers" (1890)
· "The Duel" (1891)
· "Peasant Wives" (1891)
· "Ward No 6" (1892)
· "In Exile" (1892)
· "The Grasshopper" (1892)
· "Neighbours" (1892)
· "Terror" (1892)
· "My Wife" (1892)
· "The Butterfly" (1892)
· "The Two Volodyas" (1893)
· "An Anonymous Story" (1893)
· "The Black Monk" (1894)
· "The Head Gardener's Story" (1894)
· "Rothschild's Fiddle" (1894)
· "The Student" (1894)
· "The Teacher of Literature" (1894)
· "A Woman's Kingdom" (1894)
· "Three Years" (1895)
· "Ariadne" (1895)
· "Murder" (1895)
· "The House with an Attic" (1896)
· "My Life" (1896)
· "Peasants" (1897)
· "In the Cart" (1897)
· "The Man in a Case", "Gooseberries", "About Love" - the 'Little Trilogy' (1898)
· "Ionych" (1898)
· "A Doctor's Visit" (1898)
· "The New Villa" (1898)
· "On Official Business" (1898)
· "The Darling" (1899)
· "The Lady with the Dog" (1899)
· "At Christmas" (1899)
· "In the Ravine" (1900)
· "The Bishop" (1902)
· "The Bet" (1889)
· "Betrothed" atau "A Marriageable Girl" (1903)
· "Agafya"
· "The Pipe"
· "The Lottery Ticket"
· "Verochka"
[sunting] Novel
· The Shooting Party (1884-1885)
[sunting] Aneka rupa
Ada sebuah kawah di Merkurius yang dinamai Chekhov untuk menghormatinya.
Anton Chekhov
Raja Cerpen Rusia yang Melucu dengan
Satire Sosial

Jakarta, Sinar Harapan
Siapa yang tak kenal Anton Chekhov? Karya-karya dari si Raja Cerita Pendek (cerpen) Rusia yang kelahiran Taganrog, Rusia ini memang kuat dengan nuansa satire sosial yang diangkat dari fenomena realitas masyarakat pada zamannya. Namun segar sepanjang masa, segar juga bila dikontekskan di negara mana pun, termasuk lewat karya terjemahan Koesalah Soebagyo Toer ini.

Anton Pavlovich Chekhov, menurut Koesalah, menjalani tiga periode kepengarangan. Tahun 1880, ia kerap berkisah tentang cerita lucu dalam kehidupan sehari-hari dan kerap dimuat di majalah humor populer itu. Pada 1890, ia mengalami perubahan drastis dalam kreativitas dan menyimpulkan karya-karyanya pada tahun 1880 adalah ”cuma gado-gado, sampah, tulisan mahasiswa yang sudah dipermak oleh sensor redaktur majalah humor”. Lalu pada tahun 1888, pada waktu itu ia hanya menghasilkan sepuluh cerita – berbeda dari tahun sebelumnya yang sampai seratus cerita. Pada tahun 1888 juga dia menelanjangi kepicikan dan ketidaksenonohan masyarakatnya.
Buku kumpulan cerpen yang diterjemahkan oleh Koesalah dengan judul Pengakuan ini dikategorikan sebagai cerpen yang dihasilkan Chekhov saat dia menjalani fase humoris. Chekhov mengangkat kisah-kisah dari ”narasi kecil” pada keseluruhan cerpennya ini, mengangkat keseharian pada peristiwa yang sangat biasa dan ”kecil” dalam kegiatan hidup manusia.
Bacalah cerpennya yang berjudul ”Bandot Tua dan Seorang Nona”. Dalam judul itu, Chekhov mengisahkan perempuan bernama Marya Yefimovna yang ingin mendapatkan potongan karcis sehingga pergi ke rumah seorang petugas stasiun, malah nyasar ke petugas bank! Si petugas bank (yang Chekhov juluki ”bandot tua” itu) justru melayani setiap permohonan – atau rayuan si nona – hingga dia meninggalkan Marya karena harus berangkat kerja sambil mengaku bahwa petugas stasiun adalah tetangga sebelahnya. Sialnya, saat Marya sadar, justru dia terlambat setengah jam karena kereta telah berangkat. Atau seorang perempuan bernama Yulia Vasilyevna ke kamar kerja tokoh ”saya”. Cerpen yang berjudul ”Orang Bebal” ini mengisahkan Yulia, si guru pribadi anak-anak ”tokoh saya”, yang penurut dan selalu mengatakan ”merci” (terima kasih), sekalipun uang bayarannya terus dipotong sampai tak kenal ampun. Bayangkan, dari honorarium 40 rubel, menjadi 30 rubel, dipotong lagi sampai tinggal sebelas rubel.
Namun inilah kisah satire Chekhov, dia selalu memunculkan seorang yang kelasnya lebih rendah, dengan yang kelasnya lebih tinggi. Yang berduit dan tidak berduit. Dari semua fenomena itu, muncullah fenomena korupsi yang menggelikan (atau yang menjijikkan) hati!
Itu ada pada kisah si istri yang menghina Von Tramb, seorang lelaki koruptor yang bekerja sebagai petugas kereta api. Si istri berharap suaminya tak seperti itu, dan bersumpah akan meninggalkan suaminya bila sang suami juga seorang koruptor. Namun si suami malah minta menghitung semua kekayaan sehingga ketahuanlah dia korupsi juga. Si istri memang meninggalkan suaminya, bukan keluar dan minggat dari rumah. Si istri ternyata hanya mampu keluar dari kamar suaminya saja. Atau cerpen ”Dalam Pertunjukan Hipnotis” yang mengisahkan si tokoh ”saya” yang tak bisa dihipnotis oleh si ”ahli hipnotis” (tukang sulap). Namun pada si ”saya” ternyata dia kebal dan tak bisa dihipnotis. Maka, selama berlangsung hipnotis, si ”saya” dipaksa berpura-pura pingsan, dengan tawaran uang dua lembar lima rubel diselipkan di tangannya. Bos si ”saya” yang hadir pun akhirnya mengetahui hal itu dan berniat marah tapi tak berdaya, karena si istri pun pernah melakukan hal seperti itu. Koesalah memang istimewa sekali mampu mempertahankan kelucuan-kelucuan Chekhov di dalam penerjemahan kumpulan cerpen berjudul Pengakuan ini. Dia berusaha memasukkan juga unsur homuris yang ”kultural Indonesia” dari karya Chekhov. Koesalah juga pandai mengakhiri kisah cerpen ini dengan cara yang sangat sederhana namun terkesan lucu.
Walaupun dari sisi kelemahannya, karya terjemahan Koesalah ini memunculkan juga beberapa kata yang tak bisa dimengerti seperti nglempeo (pada hal. 94, sekalipun ada footnote penjelasan yang bermakna ”bersikap sangat lembek, sangat loyo” namun barangkali bisa dicarikan kata yang lebih tepat).

Landung Melucu
Dengan bahasa yang tenang, peluncuran karya Koesalah Soebagyo Toer yang dibacakan oleh Landung R. Simatupang di Bentara Budaya Jakarta, beberapa waktu lalu, ini memang sangat tepat. Selain jelas karena teks dari Koesalah yang menarik – umumnya – karena merupakan kata keseharian, Landung cukup piawai dalam membacakan dengan inner yang tidak emotif, tapi tahu tekanan kelucuan dari karya Chekhov ini. Itu sangat memancing reaksi penonton, terbukti, dengan 12 pembacaan cerpen Chekhov, Landung mampu mempertahankan penonton agar tetap menyimak dan sesekali tertawa sehingga bertahan duduk selama satu jam lebih untuk menikmati pembacaannya.
Dengan gaya yang santai, Landung yang pada session kedua sempat berpakaian Jawa ini terlihat sangat santai dan prima dalam pementasan kali ini juga, agak ”bandel” dengan menghilang dalam satu pembacaan cerpen menjelang akhir – yang digantinya dengan menyalakan rekaman saat dia membaca cerpen di radio. Maka Landung pun makan seenaknya di panggung, minum dan bertukar pakaian….
(SH/sihar ramses simatupang)

Copyright © Sinar Harapan 2003
Nyanyian Angsa

Anton P.Chekov



Pelaku :

Vasili Svietlovidoff : Seorang komedian berumur 68 tahun

Nikita Ivanitch : Seorang promter (pembisik), orang tua



Skene ini terjadi di atas sebuah teater daerah. Malam hari setelah pementasan. Si sebelah kanan keadaannya tidak teratur dan ada pintu usang tak bercat ke kamar-kamar pakaian. Di sebelah kiri dan latar belakang pentas diseraki oleh bermacam-macam barang usang. Di bagian tengah ada sebuah kursi polos terjungkir.



SVIETLOVIDOFF : (dengan sebuah lilin ditangan, keluar dari kamar pakaian dan tertawa) ya, ya ini gila sekali! Sungguh ini lelucon yang sangat bagus. Aku jatuh dari kamar pakaian setelah pementasan habis, dan di situ aku dengan tenang ngorok setelah semua orang meninggalkan gedung teater ini. Ah! Aku memang orang tua yang tolol, si tua yang sialan! Kiranya aku telah minum lagi sehingga aku tertidur di dalam sana, tergeletak. Sungguh pintar! Selamatlah kau pemuda gaek! (memanggil) Yeghorka! Petruskha! Di mana engkau setan, Petruska? Kedua bajingan itu tentulah sudah tidur, dan meskipun gempa tak akan bisa membangunkan mereka sekarang!

Yekhorka (mengambil kursi polos, lalu duduk setelah meletakkan lilin di atas lantai) tak ada suara! Hanya gema yang menyahutku.

Aku beri yegorkha dan petruskha persen setiap hari dan mereka telah hembus dan mungkin sekali telah mengunci gedung teater ini. (menggoyang-goyangkan kepalanya). Aku mabuk.

Ugh, pementasan malam ini sungguh menggembirakan, dan alngkah gilanya jika dipikir. Berapa banyak bir dan anggur yang telah kutuang ke dalam tenggorokan untuk menghormati peristiwa ini. Luar biasa! Rasanya tubuhku ikut tenggelam seluruhnya dan kurasa ada dua puluh macam lidah didalam mulutku. Sungguh gila! Tolol sekali! Si jahanam yang malang dan gaek ini telah mabuk lagi dan tidak tahu apa sebenarnya yang dia Tuhankan! Ugh kepalaku remuk, seluruh tubuhku menggeletar dan aku m,erasa dingin serta gelap bagaikan dalam kolong bawah tanah. Bahkan jika aku tidk lupa hancurnya kesehatanku, seharusnyalah aku ingat umurku. Betul-betul si gaek yang tolol aku ini. Yah! Umurku yang telah tua, tak ada gunanya lagi. dan aku yang berlaku dengan tolol, pongah, dan pura-pura muda padahal hidupku sekarang telah usai. Kuciumi juga tanganku yang telah enampuluh depalan tahun berlalu dan tak mungkin kulihat kembali. Aku kosongkan botol itu. Hanya tinggal beberapa tetes lagi di dasar, itupun cuma kerak-kerak. Ya, ya demikianlah halnya, Vasili, pemuda gaek. Waktu telah tiba bagimu untuk meltih peranan sebagai orang mati, suka atau tidak. Kematian kini sedang diperjalanan menujumu (melotot ke atas).

Aneh sekali, meskipun aku telah berada di pentas 40 tahun selama ini, baru kali pertama inilah aku menyaksikan gedung teater ini malam hari, setelah lampu-lampu dipadamkan. Untuk kali pertama! (berjalan bangkit ke arah lampu kaki) alangkah gelapnya di sini. Aku tak dapat melihat apa-apa. Oh ya, aku dapat melihat lubang sipembisik dan mejanya, terbaring di dalam liang yang gelap, hitam tak berdasar, macam kuburan dimana maut mungkin sedang bersembunyi. Brrrrr …….. betapa dinginnya ini. Angin berhembus dari tetater kosong ini seperti keluar dari terowongan batu. Ini tempat hantu! Tengkukku jadi begidik (menggigil). Yegorkha! Petruskha! Dimana kalian berdua? Apa yang menyebabkan aku merasa benda-benda yang ada di sekitarku menyeramkan? Aku semestinya diberi minuman, aku seorang tua. Aku tidak akan hidup lebih lama lagi. pada usia 68 orang pergi ke tempat beribadah, dan bersiap-siap untuk kematian. Tetapi aku di sini. Ya tuhan! Anak yatim tua ini mabuk dalam pakaian tololnya. Aku tidak pantas lagi kelihatan begini. Aku mestinya pergi untuk menukarnya.

…………. Ini memang tempat maut dan aku tentu akan mampus ketakutan kalau di sini semalaman. (keluar menuju kamar pakaian). Ketika itu juga muncul nikita ivanitch, muncul dengan pakaian serba putih dari kamar pakaian di ujung pentas.

SVIETLOVIDOFF:

"(melihat Ivanitch, kemudian menjerit kaget sambil mundur ke belakang) Siapa kau? Apa, apa perlumu? (menhentakkan kaki) siapa kau?



IVANITCH : Ini aku, Tuan…!



SVIETLOVIDOFF :"Siapa kau? Ivanitch?



IVANITCH :"(Datang mendekat perlahan-lahan) Ini aku,Tuan, si pembisik!



SVIETLOVIDOFF : (Terhuyung-huyung ke kursi, bernafas sesak lalu menggeletar hebat) Ya Tuhan!Siapakah kau? Itu kau… kaukah itu Nikituskha? Apa…apa yang kau kerjakan di sini?



IVANITCH : ”Aku menginap malam ini di lemari pakaian. Mohon sekali tuan jangan beritahukan Alexi Komitch. Aku tak punya tempat tinggal lain untuk menginap malam ini. Aku sungguh-sungguh tak punya.



SVIETLOVIDOFF :"Ah! Nikituskha? Cobalah pikir, mereka menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak.Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementasan selesai, untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang ke rumah. Dan aku, akulah… orang tua itu Nikituskha! Usiaku telah 68,sakit-sakitan lagi, dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup. (Jatuh memeluk leher IVANITCH dan menangis). Jangan pergi jauh NIKITUSKHA! Aku sudah uzur, tak ada harapan lagi, dan kurasa inilah saatnya aku mati. Oh ini sangat mengerikan! Mengerikan sekali!



IVANITCH : (Kasihan dan penuh hormat) Tuan, kini sebaiknya Tuan pulang saja.



SVIETLOVIDOFF : Aku tak mau pulang. Aku tak punya rumah. Tidak! Tidak! Tidak!





IVANITCH :"Oh Masak Tuan lupa di mana Tuan tinggal?



SVIETLOVDOFF :"Aku tak mau kesana, aku tak mau! Aku cuma sendirian di sana. Aku tak punya keluarga. Nikituskha! Tak punya istri, tak punya anak. Aku seperti angin yang berhembus melintasi padang-padang yang sepi. Aku akan mati dan tak seorangpun akan mengikuti. "Sungguh mengerikan kesendirian ini.Tak ada yang membahagiakanku, tak ada yang mengasihiku. Tak ada yang mau menolong aku ketempat tidur kalau aku mabuk. Punya siapakah aku ini? Siapa yang membutuhkan aku? Dan siapakah yang mencintai aku? Tak sebuah hatipun, Nikituskha.



IVANITCH : (Menangis) Penonton mencintai Tuan.



SVIETLOVIDOFF :Penonton sudah pulang. Mereka semua sudah tidur dan melupakan si badut tuanya. Tidak seorangpun membutuhkan aku, tak ada yang mencintaiku. Aku tak punya istri dan tak punya anak.



IVANITCH : "Oh Tuan.oh Tuan! Jangan jadi begitu murung karenanya.



SVIETHLOVIDOFF : "Tetapi aku seorang laki-laki dan masih hidup segar. Darah masih terus mengalir dalam nadiku, darah warisan bangsawan. Aku seorang Aristokrat Nikithuskha! Aku telah mengabdi dalam ketentaraan dibagian artileri sebelum jatuh aku jatuh hina. Betapa gagahnya aku sewaktu muda. Tampan gagah dan berani! Kemanakah itu semua pergi? Apa jadinya itu semua dimasa tua? Tentulah ada liang yang telah menelan itu semua! Aku mengenang itu semua sekarang.

“Telah 45 tahun hidupku tenggelam disitu. Hidup apa itu Nikituskha?Aku dapat melihatnya dengan jelas seperti melihat wajahmu : remaja yang riang , bersemangat, gairah pujaan wanita. Wanita Nikituskha!



IVANITCH :"Sebaiknya Tuan tidur saja sekarang!



SVIETLOVIDOFF : Ketika baru-baru aku naik ke pentas, semasih gairah remaja bergejolak, aku ingat seorang wanita yang jatuh cinta karena aktingku. Dia sangat cantik, tinggi semampai, muda, suci, tak bercela, berseri-seri laksana fajar musim panas. Semuanya dapat tembus menyinari kegelapan malam.

">Masih kuingat sekali ketika aku berdiri di depannya seperti sekarang aku berdiri didepanmu.Dia kelihatan begitu mencintaiku, tidak seperti kenyataan kemudian. Berkatalah ia kepadaku supaya memandang dengan pandangan demikian! Pandangan yang tidak dapat kulupakan, tidak bahkan sampai kekubur seklipun. Begitu kasih, begitu lembut, begitu dalam, begitu bersinar ceria!

"Dengan sangat riang mabuk kepayang, aku berlutut di hadapannya. Lalu aku mohon demi kebahagiaan, dan berkatalah ia: " tinggalkan pentas".

Kau mengerti? Dia dapat mencintai akting. Tetapi, buat mengawininya tidak! Aku sedang berlakon pada suatu ketika. Ya, aku ingat, aku berperan sebagai badut yang tolol. Setelah berlakon aku merasa mataku jadi terbuka karena melihat apa yang pernah kuanggap pemujaan kepada seni begitu suci, sebenarnya adalah khayalan dan impian kosong belaka. Bahwa aku adalah badut yang tolol dan menjadi permainan yang asing dan sia-sia.

">Akhirnya aku mengerti tentang penonton. Sejak saat itu aku tak percaya lagi pada tepukan tepukan mereka, atau pada bungkusan bunga mereka atau pada ketertarikan mereka. Ya, Nikituskha!orang memuja aku, membeli gambarku, tetapi aku tetap asing bagi mereka. Mereka memburu-mburu supaya dapat bertemu dengan aku tetapi melarang adik perempuan atau putrinya untuk kawin denganku, seorang yang hina dina. Tidak! Aku tak yakin lagi kepada mereka. (terhenyak dalam kursi polos) Tak yakin lagi kepada mereka.



IVANITCH : ">Oh Tuan!Kau kelihatan begitu pucat pasi. Kau dekati aku dengan kematian. Ayolah, kasihani aku!



SVIETLOVIDOFF :">Ketika aku telah mengetahui segalanya dan pengetahuan itu telah dibeli tunai, Nikituskha! Setelah itu…jika gadis itu…nah, kumulailah penggambaran tanpa tujuan hidup dari hari kehari, tanpa tujuan apa-apa.Akupun mengambil peranan pelawak murahan. Membiarkan diriku hancur.Oh, mestinya aku dulu adalah seorang artis yang besar namun perlahan-lahan aku buang jauh-jauh bakatku dan memainkan banyolan-banyolan tolol, kehilangan pegangan, kehilangan kekuatan ekspresi diri. Lalu, akhirnya hanya menjadi seorang banci Marry Andrew dari pada seorang laki-laki. Aku telah ditelan seluruhnya kedalam liang besar yang gelap. Namun, malam ini ketika aku terbangun kulihat kebelakang. Di sana , di sampingku terbentanglah waktu68 tahun.

Barulah aku menyadari betapa lamannya itu sudah. Dan, semua itu telah berlalu… (tersedu-sedu)…semuanya telah berlalu…..



IVANITCH :">Di sana, di sana, Tuan! Diamlah….mudah-mudahan! (Memanggil) Petrushka! Yegorhka!



SVIETLOVIDOFF :">Tetapi, betapa jeniusnya aku. Aku tidak bisa membayangkan kemampuanku, betapa fasih, bagaimana menariknya aku, betapa peka, dan betapa hebat tali senar (menepuk-nepuk dada) menggetar di dalam dada ini. Sungguh berdebar perasaanku memikirkannya!


Dengarlah sekarang! Tunggu! Bisr sku tsrik napas dulu. Yah, sekarang dengarkanlah ini:

;Berlindung darah ivan kini kembali

Terkipas dari bibirku pemberontakan berkobar

Akulah Dimitri yang buta! Di dalam kobaran apiu

Boris akan musnah diatas tahta yang kutuntut

Cukup! Pewaris tsar tak tampak lagi

Berlutut ke sana ke ratu Polanbdia yang congkak"

(dari : Boris Gonudof, karya Pushkin)

Jelekkah itu, ha? (cepat) Tunggu! Nah ini sesuatu dari Raja Lear. Langit gelap, kelihatan hujan turun deras, guruh mengguntur, kilat … zzz zzz zzz … menerangi seluruh permukaan langit, dan kemudian dengarkanlah :

;Tiuplah angin, hancurkan pelipismu! Amuk! Tiupkan!

Sehingga kau basahi puncak menara kami, tenggelamkanlah ayam-ayam Kau berlekang pikiran yang pasti membakar

Patung disambar petir

Hanguskan kepalaku yang ubanan!

Dan kau segala guruh

Yang menggelegar pukul ratakan bentuk dunia yang gemuk!

Hancurkan kesuburan dunia, segala kecambah leburkan sekali

Itulah yang membuat orang tak bersyukur!

(Tak sabar) Sekarang, peran si tolol. (Menghentakkan kakinya) Lekas ambil peran si tolol! Cepat! Aku tidak bisa menunggu.



IVANITCH :">(Mengambil peran si tolol);Nunolo, air suci istana di dalam rumah gersang lebih baik daripada air hujan di rumah ini. Bagus, Nunolo, masuklah. Mintalah anugerah putrimu : ini adalah malam belas kasihan bagi orang-orang bijaksana maupun orang tolol.



SVIETLOVIDOFF : Menggunturlah sesuka hatimu! Muntahkan kabar!Luncurkanlah hujan! Bukan cuma hujan. Angin, kilat, api adalah putri-putrimu. Aku bukan menuntutmu, kau anasir-anasir, dengan kejahatan aku tak pernah beri kau kerajaan, kunamakan kau anak-anak nada

Ah! Sungguh mampu dan berbakat kau! Dan, aku memang artis ulung! Selanjutnya kini, iniloah sesuatu lagi semacam tadi, untuk mengembalikan masa mudaku lagi. Umpamanya, ambillah ini, dari Hamlet aku akan mulai … biarkan aku … bagaimana mulainya? Oh ya, inilah dia. (Mengambil peran Hamlet) Oh! Para pencacat, biarkan aku sendirian! Kembalikan kalian! Mengapa kalian bermaksud mencari bauku? Sehingga kalian masuk dalam jebakan.



IVANITCH :;Oh Tuanku, jikalau tugasku begitu garang, maka kekasihku begitu curang



SVIETLOVIDOFF :Aku sungguh-sungguh tak mengerti itu



IVANITCH : Tuanku, aku tak pandai.



SVIETLOVIDOFF :Kuharap kau.



IVANITCH :Percayalah, aku tak pandai.



SVIETLOVIDOFF;Aku mohon padamu!



IVANITCH ";Aku tak pandai memegangnya, Tuanku.



SVIETLOVIDOFF : Ini mudah saja seperti berbaring-baring : tutuplah lubang-lubang itu dengan jari, keluarkan napas dari mulutmu, dan nanti akan terdengar musik yang amat merdu. Perhatikan, itu penutupnya.:



IVANITCH :

;Tetapi, itulah yang aku tidak bisa memakainya agar cocok : aku tak ahli.



SVIETLOVIDOFF :Mengapa? Ingatlah betapa tak bergunanya kau lakukan untukku, kau harus nampak paham akan istirahatku, kau harus menangkap hakekat dari kegaibanku, kau harus mendengar dari catatanku yang mula-mula hingga puncak pedomanku.

Dan di situlah terdapat berbagai musik, suara yang indah di dalam alat yang kecil ini, meskipun kau tak bisa meniupnya hingga berbunga. Astaga! Kau pikir aku hanya muda meniup suling itu saja? Sebetulnya, alat instrumen mana yang kau kehendaki? Meskipun kau tak yakin kepadaklu, kau memang tak bisa melakukannya untukku.

Tertawa dan bertepuk) Hebat! Hebat sekali! Di manakah setan yang bersarang di dalam usia tua ini? Aku bukan orang tua, semuanya itu omong kosong. Arus tenaga masih mengalir di dalam diriku. Inilah hidup, gairah, dan muda!

Usia tua dan jenius tentulah tidak berdampingan bersama-sama. Kau nampak membisu saja. Nikitushka. Tunggulah sejenak sampai kekuatanku pulih.

Oh! Rumah! Sekarang perhatikan! Pernahkah kau mendengar lembut seperti:

;Bulan telah lenyap, tiada lagi cahaya

Mendampingi gugusan bintang kesepian yang meratap pucat

Di cakrawala ada yang tiba-tiba bercahaya

Bunga putih bersih di tengah-tengah lembah bunga mawar

Disusupi kunang-kunang,

Yang cahayanya suram berkedip-kedip,

Bagai harapan yang enggan menjelma

Suara-suara pintu terdengar) Apakah itu?



IVANITCH Itu tentu Petrushka dan Yegorhka pulang. Ha, engkau memang jenius, Tuan.



SVIETLOVIDOFF : Memanggil, berpaling ke arah suara-suara tadi) Kasihanilah anak-anak. (Kepada IVANITCH) Ayolah kita pergi tukar pakaian. Aku bukan orang tua. Semua itu tolol, omong kosong! (Tertawa gembira)Apa yang kau tangisi? Ini bukan … kemauan! Ya, ya, segalanya ini bukan kemauan! Mari, mari orang tua, jangsan terbeliak bigitu! Apa sebab kau terbeliak begitu? Ya, ya, (memeluk sambil menangis) Jangan menangis! Di mana ada seni dan jenius di situ pasti tidak ada segala ketentuan, kesepian, atau penyakitan … hanya kematian itu yang semakin dekat. (Tersedu-sedu)Tidak! Tidak, Nikitushka!

"Segalanya itu telah berlalu dari kita sekarang! Betapa jeniusnya aku!

Aku seperti uap lemin, botol pecah. Dan, kau, kau adalah tikus tua gedung teater … pembisik, ayolah!

Mereka pergi) Aku bukanlah jenius. Aku hanyalah cocok disamakan dengan promter. Bahkan, untuk itupun aku terlalu tua. Ya … kau ingatkan baris-baris ini dari Othelo, Nikitushka!

Selamat tinggal kenangan damai!

Maha perang

Yang mengalahkan angin unggul!

Oh, selamat tinggal!

Selamat tinggal ringkik kuda, dan sangkakala terompet

Pukulan genderang bersemangat

Suling yang menembus pendengaran



Diterjemahkan oleh : Djohan A. Nasution


MAAF YA KAWAN HANYA INFORMASI INI SAJA YANG BISA SAYA CARI...
SEMOGA BERMANFAAT!!!
(POSTED BY:mE9A fiyani SIANIPAR dari berbagai sumber)



Selasa, 21 Oktober 2008

PUISI "IBU"

IBU

Perasaan putih menghiasi hatimu
Keteguhan hati menjadi kekuatan bagimu
Limpahan kasih sayang kau tunjukkan kepadaku
Kebahagiaan sahabat terindah kecilku

Saat perih kau simpan sendiri
Bahagia kau bagi bersama diriku
Susah senang kau menyayangi diriku
Sejuta harapan menghiasi wajahmu

Perjuanganmu mengalir dalam nadiku
Derai air mata tak cukup mengantarmu
Sepanjang masa kau hidup dalam hatiku
Menjadi penerang saat kau tak bersamaku

Ana Royhanati

PUISI "HILANG"

HILANG

Sayup mata terbang melayang menepi
Gumpalan darah tercerai menghilang
Sayup-sayup kecil berirama hitam kelam
Bagai kembang tak jadi bermekaran


Sahutan angin merobek keheningan
Hembusan nafas menerbangkan galau
Se iya dalam hati muncul menjadi nestapa
Berjalan sendiri jatuh terbuai mati

Menapaki bumi tanpa baju tanpa diri
Membawa angin dalam genggaman membawa air dalam mulut
Pita hitam kelam menghiasi angin yang berhembus
Menatap, menangkap dan tak kembali


Ana Royhanati

Senin, 13 Oktober 2008

SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali pergantian ejaan. Adalah Ejaan Van Ophuysen yang pertama kali berlaku pada 1901. Ejaan bahasa melayu ini berdasarkan rancangan CH. A. Van Ophuysen dengan bantuan Engku Nawawi Sutan Ma’moer dan Mohammad Taib Soetan Ibrahim.

Huruf-huruf peninggalan ejaan Van Ophuysen yang dapat kita kenali adalah:

  1. ch, dj, sy, nj, sj, tj, oe, dan hamzah(‘)
  2. beberapa peraturannya seperti:

a. penghilangan ahuruf antara w antara lain dalam kata koe, doeit, goeroean.

b. penggunaam kata 2 untuk kata ulang yang kata-katanya diulang sepenuhnya tetapi tidak untuk kata ulang yang hanya diulang sebagian. Jadi laki-laki, koeda-koeda boleh ditulis laki2, koeda2, tetapi berlari-lari, memata-matai tidak boleh ditulis berlari2 dan memata2i.

Setelah Ejaan Van Opuysen, yang berlaku kemudian adalah Ejaan Republik. Ejaan ini ditetepkan berdasarkan Surat Keputusan No. 264/Bhg.A tabggal 19 Maret 1974 ketika Soewandi menjadi Mentri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Ejaan yang juga kerap disebut Ejaan Soewandi ini adalah upaya penyederhanaan dan penyelarasan atas ejaan yang sudah ada.

Beberapa perubahan yang dilakukannya, seperti:

a. yaitu huruf e pepat (é)cukup ditulis e

b. bunyi hamzah (‘) dihilangkan dan diganti dengan huruf k untuk sebagian kata, jadi tidak ada lagi kata ra’yat atau ta’pa, tetapi rakyat atau tapa.

c. ulangan tidak boleh ditulis dengan angka 2 tetapi harus dilihat bagia yang diulangnya misalnya: mudah2an, ber-lari2an, me-mata2i.

Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia) merupakan Ejaan yang selanjutnya. Ejaan ini diputuskan oleh siding prutusan Indonesia dan Malaysia yang diketuai Slamatmuljana (Indonesia) dan Syed Nasir Bin Ismail ( Malaysia) pada !959.

Berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 062/67 tanggal 19 September 1967 disahkan sebuah panitia Ejaan Bahasa Indonesia. Panitia ini bertugas unutk melanjutkan pekerjaan panitia Ejaan Melindo.

Oleh Pemerintah Indonesia, Rancangan Ejaan Melindo kemudian diresmikan dengan nama Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), setelah sebelumnya diseminarkan di Puncak, Jawa Barat. Dan berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20Mei 1972 No. 03/A.I.72 dan keptusan Presiden No. 57 tahun 1972. Ejaan ini lebih disempurnakan lagi pada tahun 1987 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/u/1987 tanggal 9 September. Itulah pedoman Ejaan yang kita pakai sekarang. Perubahan yang cukup mendasar pada EYD, yaitu:

a. tidak dipergunakannya lagi angka 2 untuk menuliskan bentuk ulang

b. perubahan penulisan huruf j menjadi y, dj menjadi j, nj menjadi ny, ch menjadi kh, tj menjadi c, dan sj menjadi sy.


Sumber: Sarwoko, Tri Ardi:Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik.2007. Penerbit Andy: Jakarta


Gilang Nugraha

Jumat, 10 Oktober 2008

NII DIA KETUA KELAS 3A PBSI UIN JAKARTA






BE A GOOD LEADER BOY...


MR.GII...

CHAYOOOOO.....



TEMAND2 YANG LAEN BE CREATIVE YAK DI BLOG!!!



SMANGAT 3.A,,